Halaman

Minggu, 13 Januari 2013

#1 Pelajaran Tentang Pernikahan



Sesudah IJABSAH sebagai langkah awal kewajiban ketika membina rumah tangga. Ada beberapa hal yang kiranya yang harus kita pelajari untuk menjadi lebih bijaksana.

Menikah seyogyanya adalah menyatukan langkah kaki yang awalnya berjalan sendiri. Antara langkah wanita dan pria .

Menikah itu laksana mengarungi lautan dengan menggunakan perahu , dan nahkodanya adalah kebersamaan.
Perahu akan mengalami goncangan baik karena kerasnya angin maupun ombak. Bahkan, angin dan ombak yang bersahabat pun akan menghanyutkan ketika tanpa disadari memasuki pusaran air. 

Menakutkan? ya itu lah menikah. Ketakutan akan mengalami rintangan, resiko dan hambatan sebelum ijabsah itu wajar. Tapi ketika sudah ijabsah (baca:ijab kabul) maka ketakutan itu harus bermetamorfosis dengan keberanian. 

Menikah Bukan Hanya Aku dan Kamu 
Menikah adalah menyatukan, bukan hanya menyatukan aku dan kamu. Namun juga menyatukan dua keluarga besar antara si-aku dan si-kamu. 

Wahai para pencinta
Janganlah kau egois mengumbar kasih sayang yang kau curahkan sepenuhnya hanya untuk istrimu/suamimu. 
Janganlah kau mendikte dan mengatur keseluruhan kehidupan istrimu/suamimu. 

Istrimu atau suamimu adalah anak dari sepasang orang tua. 
Orang tua yang menjaga istrimu/suamimu sejak bayi hingga siap untuk menikahimu.  

Lalu siapakah kamu di mata orangtua istrimu/suamimu? 
Kau hanyalah seorang wanita/laki-laki asing yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka. 
Kau adalah seseorang yang meminta perlindungan dari segala resah yang membuncah kepada anak mereka.

Keberadaanmu menjadi istri/suami jangan sampai menjadi bumerang. Seakan dirimu telah menculik anak mereka  dari peraduannya. 
Sayangilah kedua orang tuanya
Hormatilah kedua orang tuanya
Dengan catatan bersikaplah sewajarnya
Berpikirlah secara netral 
Karena seyogyanya visi pernikahan tetap antara si-aku dan si-kamu


*Efek pulang Kondangan :-)





Tidak ada komentar: