Kali ini saya akan bercerita bermula dengan suatu benda yang dinamakan roda. Roda jenisnya banyak, baik roda mobil, motor ataupun sepeda.Namun, dasarnya memiliki bentuk yang sama yaitu bulat dan berputar.
Sudah menjadi sifat roda untuk bulat dan berputar (saya mengeneralisasikan semua kecuali dari sifat roda) :). Saya senang mengamati roda, karena jika mengamati suatu titik dalam roda maka akan memiliki sudut yang sama jika ditarik dari titik tengah roda dimanapun titik tersebut berada. Selain itu, titik tersebut pasti akan mengalami semua kondisi, bukan hanya atas bawah, tapi keadaan miring ke kiri, miring ke kanan, juing dan lain sebagainya.
Titik tersebut seperti menggambarkan kehidupan manusia. Semuanya terintegrasi dalam sebuah jiwa dan hati nurani yang dilengkapi dengan otak yang dilengkapi neuron-neuron tercanggih se-alam semesta.
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang dikatakan si kaya, si miskin, si cantik, ataupun si buruk rupa. Semuanya sama, manusia yang lengkap seutuhnya. Namun, Tuhan tetap membedakan manusia sesuai dengan tingkat ketaatannya kepada-Nya. Yaitu orang-orang yang menjauhi dan tidak ikut serta dalam segala larangan-Nya dan mentaati segala perintah-Nya. Sepertinya terkesan teoritis, bagi pembaca seperti saya (baca : ABG =D), kata-kata seperti itu malah meninabobokan dan tidak gaul lah ya.. Namun, kalau manusia berada dalam keadaan yang sangat kritis membutuhkan pertolongan pasti akan muncul penyesalan mengapa tidak taat kepada Tuhan. Bahkan, perampok yang telah membunuh 99 orang dan menggenapkannya menjadi seratus dengan nyawa seorang ulama yang bilang kepadanya bahwa dia tidak akan diampuni Tuhan, sudah pasti merasakan penyesalan yang sangat dalam karena telah menyia-nyiakan hidup untuk tidak taat terhadap-Nya.
Hasil dari ketaatan kepadan-Nya mungkin tak bisa diukur dengan seberapa kaya kita, seberapa pintar dan seberapa ganteng dan banyak orang yang suka kepada kita. Banyak orang kaya yang hatinya merasa gersang dan tidak bahagia, apalagi si miskin yang selalu uring-uringan dalam setiap harinya. Buah dari ketaatan kita kepada-Nya terasa oleh jiwa kita yaitu ketenangan batin yang maha dashyat.
saking Maha Dashyatnya rasa tenang itu akan berbuah manis menghasilkan jiwa pantang menyerah dan pasrah atas segala kuasa-Nya.
wallahu alam
saya menulis bukan karena tahu, saya hanya manusia biasa seperti roda yang berputar.
Keep Istiqomah =P