Inilah salah satu awal cerita hidup saya di tahun 2012, yaitu *MENCARI KERJA*.
Kata-kata mencari kerja merupakan akibat dari perjalanan pendidikan saya. Padahal saya belajar di sekolah tidak pernah berniat pada akhirnya akan mencari kerja. Jujur saja, saya adalah orang yang "easy going" dengan apa yang terjadi di dalam hidup selama saya mengenyam bangku sekolah yaitu SD --> SMP-->SMA-->Kuliah S1.
Dalam pemilihan SD saya mangut saja mengikuti sepak terjang ibu yang mengajar di SD yang saya masuki. Saya yang berstatus sebagai anak guru merasa tidak merasa dispesialkan dengan anak-anak lainnya, terkecuali kespesialan bahwa saya bisa bertemu dengan ibu setiap hari di sekolah maupun di rumah, dan tentu saja saya dimudahkan dalam pembekalan uang jajan. Kalau saya ga punya uang untuk beli "batagor 100 perak" tinggal minta ke ruang Guru dan muncul dengan muka innocent khas anak kecil ; "MAH, nyungkeun artos hoyong jajan batagor" dan selang beberapa menit kemudian saya sudah bisa tersenyum sambil menepuk perut buncit ala anak SD dengan bekas saos kacang di ujung bibir. Yang ada di pikiran saya selama bersekolah 6 tahun di SD hanya jajanan dan rangking kelas. Bahkan ketika guru berbicara di kelas tentang pekerjaan, yang saya ingat pada waktu itu adalah Presiden dan Insinyur. Dan saya bercita-cita menjadi Insinyur.
Beranjak ke tingkat pendidikan menengah, saya masuk ke sekolah Negeri yang berlandaskan keislaman. Yang paling saya ingat ketika bersekolah di SMP adalah pelajaran agamanya yang sangat banyak tapi menyenangkan yaitu SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Qur'an Hadist, Fiqh, Akidah Akhlak, Baca Tulis Al-qur'an dan Bahasa Arab. Dan, di SMP lah saya mulai mengenal "mahabbah" dengan lawan jenis. Namun, selidik punya selidik itu hanyalah cinta monyet yang memalukan ketika diingat kembali. hahaha.. (betapa bodoh dan lugunya saya dulu lengkap dengan pikiran khayal tingkat tinggi). Dan sekali lagi pekerjaan yang saya inginkan berubah yaitu menjadi Camat alias PNS. hmmm... ujung-ujungnya PNS juga ya..
SMA.. Nah mulai nih ketika masuk ke tingkat SMA saya masuk dengan pilihan sendiri. *bangga meureun hahaha. Padahal alasan masuk ke sekolah tersebut hanya karena *FAVORIT dan TINGKAT GENGSI*. Karena, alasannya kurang berdasarkan hati dan kegemaran saya sehari-hari. Maka ketika bersekolah di sini, saya harus jungkir balik melawan rasa kemalasan yang telah menjadi penyakit yang datang-datangan. Bahkan, kegemaran saya sekarang yang minum kopi muasalnya karena saya bersekolah di sekolah SMA tersebut. Mantap pisan sekolah disana teh, bikin 100 soal matematika dengan tulisan tangan dalam semalam dan belum usum internet dan komputer. MANTAP !!
Sayang seribu sayang, karena terlalu asik BELAJAR. *Really?? Saya kurang memikirkan akan menjadi apakah saya selama 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Walhasil, ketika melanjutkan ke perguruan tinggi pun karena tidak mau dengan keribetan dan GENGSI juga saya memutuskan untuk mengikuti PMDK. Alasan tersebut, tanpa berpikir benarkah saya siap menjadi seorang pendidik nantinya.
Selama kurang lebih kuliah di Universitas yang bertitel Pendidikan, telah membuat saya banyak mengecap perjuangan yang tak terlupakan. Mulai dari hidup sebagai anak kostan, dan bekerja freelance. Namun, karena alasan "SOK SIBUK" saya juga masih tetap belum kepikiran akan jadi apa saya ke depan. Yang ada dipikiran saya, adalah LULUS dengan predikat terbaik. OTOMATIS dengan kerjaan Study Oriented kayak gitu nih, saya kurang berkomunikasi dengan orang tua.
Nah, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana, kita membuat bubur tersebut menjadi bubur paling enak seantero negeri. Begitupun keadaan sekarang, karena kelalaian saya dalam berkomunikasi dengan orang tua sejak kecil, pikiran dewasa saya untuk memikirkan impian saya, dan pengetahuan yang terbatas membuat saya sedikit kelimpungan mencari kerja. So, kesimpulan yang saya dapat buat bekal buat anak saya nantinya kelak (*halaaaaahhhhhh khayal tingkat tinggi), yaitu :
Sayang seribu sayang, karena terlalu asik BELAJAR. *Really?? Saya kurang memikirkan akan menjadi apakah saya selama 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Walhasil, ketika melanjutkan ke perguruan tinggi pun karena tidak mau dengan keribetan dan GENGSI juga saya memutuskan untuk mengikuti PMDK. Alasan tersebut, tanpa berpikir benarkah saya siap menjadi seorang pendidik nantinya.
Selama kurang lebih kuliah di Universitas yang bertitel Pendidikan, telah membuat saya banyak mengecap perjuangan yang tak terlupakan. Mulai dari hidup sebagai anak kostan, dan bekerja freelance. Namun, karena alasan "SOK SIBUK" saya juga masih tetap belum kepikiran akan jadi apa saya ke depan. Yang ada dipikiran saya, adalah LULUS dengan predikat terbaik. OTOMATIS dengan kerjaan Study Oriented kayak gitu nih, saya kurang berkomunikasi dengan orang tua.
Nah, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana, kita membuat bubur tersebut menjadi bubur paling enak seantero negeri. Begitupun keadaan sekarang, karena kelalaian saya dalam berkomunikasi dengan orang tua sejak kecil, pikiran dewasa saya untuk memikirkan impian saya, dan pengetahuan yang terbatas membuat saya sedikit kelimpungan mencari kerja. So, kesimpulan yang saya dapat buat bekal buat anak saya nantinya kelak (*halaaaaahhhhhh khayal tingkat tinggi), yaitu :
- Buatlah mimpi bukan hanya dalam setahun yang akan dilewati, tapi buatlah selama 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan atau bahkan 20 tahun ke depan
- Pelajaran Agama penting, salah satu upaya untuk menyiasatinya menyekolah ke sekolah berbasis Islami pada pendidikan menengah (SMP)
- Untuk pendidikan Atas (SMA), sekolahkan di sekolah Favorit dalam akademis untuk membuka peluang ke depan dalam melanjutkan ke perguruan tinggi
- Banyak ngobrol sama anak, mau jadi apa kamu? dan ketika sudah mulai mengenal kata "LOVE" anaknya, jangan lupa untuk selalu menasehatinya. Beri kepercayaan dan ingat jangan sampai merugikan dirinya.
- DLL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar