SEBUTIR NASI
Bandung, 23 November 2008
02.30 am
Paradok hidupku berputar.Kini ku baru menyadari bahwa aku adalah seorang manusia yang mulai menapaki dunia kehidupan yang luas, penuh dengan benturan pemikiran. Entah kelabu, biru, merah, kuning, putih atau hitam sekalipun. Ku takkan berhenti disini, ini bukan tujuan pencarianku. Ku takkan pernah berdiam diri, membiarkan cahaya itu meredup menghilang dari kehidupanku.
Pusaran waktu berputar mengiringi langkahku, mencoba memasukkanku dalam kesemuan, kejemuan, dan kelelahan. Pusaran itu takkan berhenti terus mengikuti langkah-langkahku, apakah dengan merangkak, melompat bahkan berlari. Sampai ku masuk dan bermain dalam pusarannnya, tapi ku takkan biarkan hal itu terjadi, karena pusaran itu begitu murah untuk ku gadaikan, begitu tak berguna untuk kutukarkan. Lentera ilmu yang menjadi penuntunku terus ku dalami, nur Ilahi akan ku azzamkan dalam semua sendi kehidupanku.
Aku pandangi buku-buku tebal berjejer rapi di atas meja belajar, ku pandangi mushaf pink kesayangan tersimpan di atas sajadah. Menunggu dengan setia untuk kubaca, untuk kupahami, untuk kuamalkan. Sanubariku tak urung mulai bergelora, teringat akan semua rentetan kisah perjuangan nun jauh di belahan bumi lain menuntut pembebasan dari kebathilan. Aku tertunduk, mataku mulai berat. Ku menangis tersedu sedan, teringat akan dosa-dosaku, teringat ayah-bunda tercintaku, teringat akan hal-hal konyol yang tak berguna yang telah kulakukan selama ini. Allohu Rabbi, begitu sayang kepadaku tapi kenapa ku seakan dengan sengaja menyibukkan diriku untuk tidak bermakrifat kepada-Nya, menyongsong kasih sayang-Nya.
“Tok…tok…tok…” terdengar ketukan pintu kamar kosanku
“Ya…ada apa?”tanyaku sembari membuka pintu, kuseka air mataku.
“Ini Mbak, Hp Mbak bunyi terus. Sepertinya sms, mungkin isinya penting sampai-sampai tengah malam begini ngirimnya”, ternyata De Ratna yang mengetuk pintu.
“Aduh maafnya, jadi mengganggu. Mbak lupa waktu semalam abis murojaah, kalo Hp Mbak ketinggalan di kamarmu Dek”
“Iya ni Mbak si pelupa, he…eh Mbak udah bangun lagi? Wah rajin sekali.” tanyanya keheranan melihatku telah lengkap dengan balutan mukena pink.
“Iya, Mbak mau ngerjain laporan praktikum. Soalnya kalo nanti siang Mbak mau ngajar, jadi takut keteteran, udah sana tahajud dulu” aku menyuruhnya sambil tersenyum geli melihat mata Dek Ratna yang masih merah dan berseragam baju tidur.
“Iya Mbak, mudah-mudahan laporannya selesai dengan baik ya. Jangan lupa kalau dapat proyek dari Dosen lagi harus bagi-bagi rezekinya” Dek Ratna tersenyum jahil.
“Insya Allah, udah sono” sembari ku gelitik Dek Ratna. Dek Ratna mengelak, memasang muka kemenangan dan berlalu. Tak berapa lama, kudengar gemericik air di pertigaan malam mengiringi kesucian untuk bersiap diri menghadap Ilahi.
Aku tak langsung bermain dalam jentikan alat komunikasi tak berkabel itu, ku simpan begitu saja di samping komputer warisan jadul, yang dulu menemani kakak-kakakku membantu menyusun pemikiran-pemikiran mereka sembari menghantarkan mereka pada tingkat perjuangan yang berbeda.
Kulanjutkan permohonanku, kulanjutkan curahan hatiku, kulanjutkan rutinitas yang menjadi kebutuhan tempatku merajut kebersamaan dengan-Nya dalam keheningan malam. Surat cinta dari Pemilikku ku baca perlahan-lahan, ku resapi dan coba tuk kumaknai. Kusimpan mushaf pinkku.
Ku berbisik “Allohu Rabbi, berikanlah pemikiran yang tangguh kepadaku seperti ketangguhan para Nabi. Bismillahirahmanirrohim, Robby Zidni ‘ilman war juqni fahma”
Jemariku mulai bergerak lincah, tinta hitam yang keluar dari bolpoint berjejer rapi betuliskan kata-kata penyibak tabir kehidupan dan kebesaran Ilahi di atas kertas putih. Pikiranku mulai mengelana, buku-bukuku mulai terbuka, aku asyik seakan berada dalam dunia lain yang tak bisa kujelaskan. Tak kusadari detik telah berlalu, menit telah menjadi sejarah, kertas putihku telah penuh dengan gambaran-gambaran hubungan yang unik akan sebuah penyusun zat yang berbeda.
***
Bandung, 23 November 2008.
10.00 am
Angin begitu kencang, matahari begitu terik seakan ingin menampakkan kekuasaannya akan cahaya. Rindangnya dedaunan pepohonan di sekitar jalan tak berhasil untuk melindungiku dari sengat matahari. Peluh tak kusadari mulai mengalir di pelipisku, jilbab kaosku seakan banjir dengan keringat. Langkah kaki semakin kupercepat, dekapanku semakin kurapatkan dalam genggaman. Kutuju sebuah bangunan putih yang sekarang tinggal dua ratus meteran. Bangunan itu berdiri kokoh, tegak menjulang, besar dan penuh dengan teka-teki. Ku lihat jam di pergelangan tanganku.
Hm…masih lima belas menit lagi, batinku.
Kulihat seseorang dengan tas punggung warna biru telah mendahului memasuki pagar bangunan nan kokoh itu.
Ku tersenyum, dia memang selalu yang pertama.
Akhirnya, langkah-langkah kecilku berhenti. Ku rasakan sejuk dan hausnya ragaku khan nikmatnya ilmu yang ingin kudapatkan.
“Asalamu’alaikum Mbak, ko bengong. Sini masuk!” sapa orang berkaca mata minus yang berada di ruangan itu, sambil tetap menekuni bacaannya pada laptop kesayangannya.
“Wa-waalaikumsalam,.ia maaf. Aku bengong ya?” tanyaku tak mengerti.
“Duh, Mbak kenapa si? Makanya udah tahu panas kayak gini, kenapa ga pake payung? Malah nekat trus aza jalan, jilbabnya pake warna item lagi. Untung masih di Indonesia, kalo di luar negeri bisa kena hawa panas Mbak. Pingsan baru tahu deh rasanya,” jawabnya masih dengan ekspresi wajah yang sama. Dingin dan tanpa tersenyum.
Duh sabar Dinda,orang kayak gini jangan diladenin bikin hati jadi nyolot, batinku menenangkan.
“Ya ampun, makin bengong lagi si Mbak. Ya udah sini mana file tugasnya, aku udah nunggu lima menit nih” komentarnya lagi.
“Ini Furqon, maaf telah membuatmu menunggu selama lima menit,” jawabku kesal sambil memberikan flashdisk dan lembaran fortopolio yang telah kupersiapkan sebelumnya.
“Senyum ke Mbak, yang ikhlas donk ngasihinnya. Senyum itu bisa bernilai ibadah kalo dilakuin dengan ikhlas. Aku tak mau mengambil filenya, kalau kamu tidak tersenyum,” tolaknya.
Ya ampun, kenapa nih orang, aku semakin tak mengerti.
Tapi entah kenapa, kupatuhi apa yang dia inginkan. Senyuman dari bibirku muncul walau dengan sebuah keterpaksaan. Sekiranya kelompok penelitianku bisa kupilih, aku sama sekali tak berkeinginan sekelompok dengan orang yang bernama Furqon ini. Walaupun dengan segenap titel keberhasilannya menjuarai lomba-lomba penelitian tingkat nasional sekalipun, ataupun anggukan para dosen ahli yang mengamini kejeniusannya dalam penemuan-penemuan yang gemilang melihat dirinya sebagai mahasiswa yang sangat berbakat.
Urung kuucapkan apa yang kupikirkan padanya, kocokan dari dosen yang sangat kuhormati untuk menentukan anggota kelompok dalam penelitian kali ini membuatku dilema. Keluh kesahku padanya, hanya dijawab dengan senyuman manis dan sebuah jawaban yang membuat lidahku kelu.
“ Jika saya menuruti kemauan Saudara, apakah saya akan berbuat adil? Kemudian teman Saudara yang lain meminta saya dengan permintaan yang sama dan sejenis, apakah saya bisa menolak kemauan mereka? Saya percaya Saudara telah dewasa dan bisa menghormati hasil yang telah ada”
Batinku bergemuruh, inginku berteriak. Hasil yang bagaimana yang harus aku hormati? Aku hanya akan tunduk dan patuh akan ketetapan-Nya. Kebijaksanaan ini adalah hasil sebuah sistem dari pemikiran kapitalisme. Aku tak habis pikir, aku hidup di dunia mana. Apakah kehidupan ini nyata? Aku hanya bisa diam, kecewa atas sebuah sistem yang begitu mengakar dalam kehidupan ini.
“Mbak, bengong lagi!. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa sekelompok dengan orang yang hobinya bengong dan ngelakuin hal-hal aneh kayak kamu.”
Suara Furqon membangunkanku atas sebuah episode yang belum bisa aku lupakan.
“Nih flasdisknya, untuk penelitian kita kali ini sepertinya variabelnya ga usah yang ribet-ribet. Kamu cari bahan-bahan pustaka yang mendukung teori, aku akan nyari bahan-bahan penelitian dulu yang bisa menjadi rujukan. Aku pergi duluan, Asalamualaikum” katanya tanpa meminta persetujuan dan jawabanku.
“Waalaikumsalam,” jawabku lirih.
Ku terdiam, lelah begitu terasa pada tubuh ringkihku yang sejak tadi menggelayuti seakan semakin berat. Ku duduk, entah kenapa hari-hari ini serasa begitu berat untuk kujalani.
Ku terpekur, kemana semangatku? Kemana idealismeku? Kemana impian-impianku selama in?.
Yang kurasakan kini, hanya sebuah rentetan tekanan yang dulunya telah aku pelajari, telah aku analisa. Dan aku telah menyiapkan beribu strategi untuk menghadangnya. Namun, kini setelah semuanya berada di hadapanku, kenapa aku merasa tidak berkutik.
Tanpa kusadari, orang yang memakai tas punggung warna biru lengkap dengan kaca minusnya, memperhatikanku dibalik sikap keapatisannya selama ini. Ekor matanya menampakkan sebuah kedilemaan, entah apa yang dipikirkan olehnya. Dikeluarkannya Hp dengan tipe klasik, sambil tersenyum dikirimkannya sebuah sms kepada teman penelitiannya yang masih asyik berdiam diri dalam ruangan kosong. Diapun berlalu.
Keheningan yang kurasakan tiba-tiba pecah dengan alunan lagu dari sebuah lagu nasyid yang sedang aku grandrungi sekarang. Ku ambil benda silver yang berada dalam kantong bajuku.
“Jika kamu merasa kehilangan semangat sekarang, Jika kamu tak mengetahui tujuan apa yang kamu lakukan sekarang. KENAPA SEMUANYA KAMU LAKUKAN?? Jangan terjebak akan rutinitas semu, jangan terjebak dengan keberhasilan masa lalu kamu. Hidup kamu harus bermakna menuju kehidupan yang hakiki. Tahukah kamu? Tidak ada sebutir nasipun yang dapat kamu kembalikan pada orang tuamu dengan kelesuan yang kau tampakkan dalam menjalani hari-harimu, DINDA KAMU BISA!!!”
Kutarik napasku dalam-dalam, kukeluarkan dengan perlahan. Terbayang wajah Bunda tercinta, sentuhan kasih sayangnya selama ini, kesabarannya mendengar semua keluh kesahku, alunan merdu suaranya seakan menyibakkan semua keraguanku selama ini. Dalam pelupuk mataku, hadir wajah tegar sang pemimpin keluarga, badannya yang semakin ringkih oleh terpaan usia yang telah menjadi sunnatullah bagi setiap manusia memberikanku sumber kekuatan.
Kukepalkan tanganku, kutakbirkan Asma-Mu dalam hatiku. Tidak ada sesuatupun yang dapat merenggut impianku, kecuali atas kehendak-Mu ya Rabb.
Benar, tak ada SEBUTIR NASIPUN yang dapat aku kembalikan pada orang tuaku. SEBUTIR NASI, SEBUTIR NASI. Aku bisa.!! Bismillah,,,,
***
Bandung, 25 November 2008
08.00 pm
Matahari yang biasanya cerah, kini sedang asyik dalam peraduannya. Guyuran hujan tumpah ruah membasahi jalanan,perumahan, pesawahan, dan perkantoran serta gedung pencakar langit. Sejak tadi malam, rintik-rintik air tak berhenti jatuh membasahi gersangnya bumi. Angin kencang, menambah gulitanya pagi. Kicauan burung yang biasa menyapaku tak terdengar, bahkan jalanan menjadi sepi tak seperti biasanya. Ruangan dengan ukuran 3 3 meter ini seakan menjadi tempat yang paling nyaman dan aman.
“Eh Mbak, gimana perkembangan penelitiannya?” Tanya Dek Ratna bersaing dengan suara TV menyiarkan berita.
“Oh, masih begitu aza ko Dek. Cuman untuk sekarang Mbak belum bisa berkomunikasi lagi dengan orang aneh bin rese itu. Furqon sedang pulang kampung katanya, mungkin ahad besok akan Mbak tanyain lagi,” ceritaku sambil asyik dengan suapan makanan kesukaanku.
“Ih si Mbak, jangan kayak gitu. Nanti dimarahin sama Mas Furqon, Mbak belum tahu ya kalo Mas Furqon lagi marah? Aku aza hamper mau dijitak pake tang, obeng, gergaji, pokoknya syerem deh Mbak”
“Nah lho, ko Dek Ratna tahu sich? Memangnya Furqon itu siapanya kamu Dek? Ampe berani-beraninya mau menjitak bidadari syurga kayak kamu?” tanyaku keheranan.
“Memangnya aku belum cerita ya? Mas Furqon itu kakakku Mbak, yang ngasih tahu no. Handphone Mbak juga beliau. Katanya sih, beliau percaya sama Mbak buat dititipin aku. Biar aku tobat, dan bisa belajar hikmah dari Mbak. Trus katanya juga teman sekosan Mbak khan mau lulus pas aku mau masuk, ya udah sekalian aza aku nyari kosan”, celoteh Dek Ratna sambil memasang muka innocent tersenyum manis kepadaku.
“Maksud loe?”, tanyaku tak percaya.
“Udah deh Mbak, ga usah pake bahasa gaul segala. Aku ga ngerti. Aku juga ga habis pikir, apa Mbak tak menyadari kemiripan akan kami berdua? Kami sama-sama berkaca minus, dengan minus yang sama. Kadang-kadang kami suka bertukar kacamata kalo lagi bosen. Trus kami berasal dari kota yang sama, SMA yang sama, persamaan sikap, cuman bedanya aku makannya banyak kalo mas Furqon sedikit. Jadinya kami berdua bagaikan angka sepuluh kalo lagi jalan berdua.” Lanjut Dek Ratna sambil asyik memindah-mindahkan channel tv.
Makanan yang baru saja kutelan seakan tercekat di tenggorokan. Terbayang dalam ingatanku, kekesalan yang selalu aku tumpah ruahkan pada Dek Ratna tentang manusia aneh bin rese yang bernama Furqon, bukan sekali dua kali tapi hampir setiap hari. Tapi apa jawab Dek Ratna kala itu, ‘Udah Mbak sabar aza’ tak lupa senyuman manis selalu menghiasi wajah putihnya. Mukaku menjadi panas, rasa malu dan sesal kini hadir dalam pikiranku.
“Duh Dek, Mbak jadi malu nih. Merasa bersalah juga. Maaf ya kalo selama ini Mbak suka cerita tentang kekesalan Mbak atas sikap Furqon,” penyesalan dan permintaan maaf keluar dari mulutku.
“Ga pa-pa kali Mbak. Asalkan rencana kita buat ngajar di Pembinaan Anak nanti sore tetap berjalan?” kata Dek Ratna tetap dengan senyuman.
“Ia Dek, udah ah jangan ngebahas Furqon lagi ya. Selera makan Mbak jadi kurang bersemangat nih, jadinya ga nambah deh,” candaku.
“ Bukannya tadi udah nambah,” celetuk Dek Ratna menggodaku.
***
Bandung, 28 November 2008
12.30 pm
Bismillahirohmanirrohim, desahku sambil menyimpan mukena yang telah kukenakan ketika menunaikan shalat duhur. Kulangkahkan kaki, menuju tempat teras favoritku untuk membaca buku. Kulanjutkan kembali bacaanku, kuterpekur seorang diri. Menikmati kesendirian yang entah kenapa begitu kunikmati, tapi menurut orang lain begitu membingungkan.
Teringat celotehan teman kepadaku, Dinda Kamu tuh orangnya misterius, aku jadi takut dan bingung kalau berhadapan denganmu.
Kala itu, hanya senyumanku yang menjawabnya. Sayup-sayup kudengar ramainya diskusi di teras depan. Lambat laun, suaranya semakin keras dan bersahutan. Ada keinginan dalam sanubari untuk ikut bergabung bersama mereka, namun entah kenapa aku masih belum bisa untuk memulainya.
Di sudut sisi yang lain, terlihat olehku bayangan orang yang sangat aku kenal. Berjilbab biru langit, dan memakai tas berwarna krem. Bergegas kuikuti jejak langkah kakinya.
Dia berhenti, disana kulihat seorang lelaki telah menungguinya. Entah kenapa, aku begitu penasaran. Kuatur posisiku hingga tak terlihat oleh kedua orang tersebut. Ekor mataku terus memperhatikan kedua orang titu, tiba-tiba ada kekuatan yang mendorongku hingga ku tak bisa mengendalikan diriku.
“Furqon!! Apa yang kau lakukan pada Dek Ratna? Kau telah membuatnya menangis!!” kataku keras sembari bergegas menuju ke tempat kedua kakak beradik itu berada.
Tatapan mata heran yang mengikuti setiap langkahku tak kupedulikan. Mukaku memerah dan dadaku bergemuruh. Aku merasa tak rela, senyuman yang selalu menentramkanku kini berubah menjadi isakan tangis.
“Apa maksudmu, Dinda? Kau salah mengerti, kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?” Furqon mencoba membela diri.
“Iya Mbak, tangisku ini bukan karena Mas Furqon. Tapi karena penyesalanku, karena sikap kekanakkanku selama ini yang baru kusadari,” suara lembut Dek Ratna mencoba meredam kemarahanku.
Ku hanya diam, tak mengerti. Apa maksudnya?
“Makanya jangan sok jadi pahlawan Non. Aku sedang menasehati adikku, karena nilai-nilainya semakin turun sekarang. Aku cuma menunjukkan tugas-tugas yang telah aku kerjakan untuk aku kumpulkan dua minggu ke depan. Apa itu salah Non?,” Furqon menyerangku.
Keningku mengerut, batinku mulai bersuara, sepertinya aku melakukan kesalahan
“Sikapku keras terhadapnya, karena aku sadar bahwa tidak ada sebutir nasipun yang dia atau aku sekalipun dapat mengembalikan kepada ayah-ibu kami. Tidak ada satu tetes keringatpun yang dapat tergantikan dengan hanya mendapat IP 3 atau 4 sekalipun. Yang ada hanya ikhtiar kita sudah maksimal atau tidak? Aku merasakan kemunduran dalam semangat mencari ilmu dari adikku. Salahkah aku jika sebagai kakak aku mencoba meluruskan benang yang sudah mulai bengkok itu,?” cercanya datar namun tepat sasaran .
Furqon berlalu dari hadapanku, sambil membetulkan letak kacamatanya, datar dan tanpa ekspresi.
Ku hanya diam, kulihat sepasang mata sembab yang membuatku begitu marah telah mengering dari genangan air mata. Dia hanya tersenyum dan berkata,
“Yuk kita pulang Mbak, udah jangan dipikirin,” kata Dek Ratna sambil menggandeng tanganku.
Ku hanya menurut dan yang ada dipikiranku sekarang hanya tergiang-ngiang kata-kata Furqon.
Sebutir nasi, Sebutir nasi
***
Bandung, 29 November 2008
14.00 pm
Hari ini adalah hari istimewa untukku, aku akan bertemu dengan seorang gadis cilik nan perkasa. Ku tak bisa menahan senyumanku ketika kuingat pertama kali bertemu dengannya. Dia datang kepadaku, sedangkan aku malah pura-pura sibuk tak menyadari kedatangannya. Tapi dasar keras kepala, semakin aku mengacuhkannya semakin keras pula nyanyiannya. Dengan lantang diapun berkata,
“Mbak aku udah nyanyi sampai suaraku serak, ayo mana bayarannya?”
Aku sontak kaget akan keberaniannya, terpaksa kukeluarkan dompetku. Tapi tiba-tiba muncul ide keisengannku.
“Aku akan bayar kamu, kalau kamu nyanyiin lagu yang berjudul Wanita Sholehah yang dinyanyiin sama The Fikr, tahu tidak? hayo?”tantangku sambil tersenyum jahil.
“De pikri Mbak? Perasaan ga ada band di Indonesia yang namanya itu, luar negeri ya? Aduh Neneng ga bisa atuh, yang lain aza deh Mbak, misalkan PETERPAN, NIDJI, UNGU, atau apalah. Waduh Mbak tampangnya aza kayak intelek, tapi ko ga gaul si?” cerocosnya polos.
Dari perdebatan kecil antara si Neneng dan aku ternyata membuahkan hasil pertemanan yang aneh ini. Kami selalu merutinkan pertemuan dua minggu sekali, kadang-kadang aku selalu membawakan buku bacaan dan sebaliknya Neneng selalu datang dengan beribu cerita tentang pengalaman mengamennya. Kadang-kadang aku juga suka ikut ngamen dengan Neneng, tapi kerap kali Neneng menolak tuk ku temani alasannya cukup logis katanya suaraku tidak mendukung. Waduh dasar Neneng…. Terkadang aku miris, anak sekecil Neneng kenapa harus dibebankan untuk mencari nafkah.
Desauan suara angin yang menerpa dedaunan yang telah jatuh ke tanah, membuatku kembali pada episode yang sedang kujalani. Detik demi detik kutunggui Neneng kecilku, tiga puluh menit berlalu. Aku menjadi khawatir,
Tak biasanya Neneng sebegitu terlambat, resahku.
Kupandangi gerbang Taman Pohon Kota ini, tak tampak sosok mungil yang begitu kurindukan. Aku mulai menerka-nerka apa yang membuat Neneng lupa atau sibuk hingga mengabaikan janjinya padaku. Kecemasanku memudar, ketika terdengar tawa seorang gadis kecil yang begitu khas. Kumembalikkan badan, disana kulihat Neneng bin rese itu sedang melompat-lompat kecil sambil tertawa-tawa menuju ke tempatku berada sambil memandanginya.
Celoteh riang diantara kami berdua tak terelakkan, saling cubit-mencubit seolah menjadi kebiasaan wajib yang harus dilakukan. Bebanku yang selama beberapa hari ke belakang kurasakan seakan menguap, aku seakan hidup dalam dunia khayalanku.
Akhirnya, setelah melakukan ritual aneh Neneng kecilku mulai bercerita mengapa dia sampai terlambat, katanya dia menghadiri dulu syukuran ulang tahun temannya. Begitu riangnya dia menceritakan kegembiraannya bertemu dengan Badut dan telah mencicipi makanan yang membuat begitu merasa dihargai.
Kupandangi wajah bulat hitam manis milik Neneng kecilku, dia begitu polos, Kuusap rambutnya dengan penuh kasih saying, bersama Neneng aku seakan merasakan keberadaan adikku kembali dalam dunia yang fana ini. Tiba-tiba kulihat sebutir nasi tengah menjadi pajangan di pinngir mulutnya. Kutatap matanya dengan luapan cinta yang tak terhingga.
Ah Neneng kau rakus sekali, sampai sebutir nasi yang menghiasi wajahmu tak kau sadari.
Kuusap dahinya lembut, ku ambil sebutir nasi itu dan kuperlihatkan pada Neneng. Dia cuma terkekeh dan merebut sebutir nasi yang kupegang. Dipandanginya sebutir nasi itu, akhirnya meluncur ke dalam perutnya.
“Coba Mbak, apa makna dibalik sebutir nasi itu?” Tanya Neneng tiba-tiba.
Aku tergelak akan pertanyaannya, ku terdiam sejenak dan kujawab.
“Duh adekku sayang, coba deh Neneng pikir. Siapa yang nyiptaan Neneng, kepada siapa Neneng meminta, kepada siapa Neneng bersyukur?” tanyaku sambil tersenyum kepada Neneng.
“Yang ada di pikiran Neneng mah sekarang, hidup yang ada sekarang adalah kenyataan yang harus Neneng hadapi.”
“Adekku, kehidupan ini memang nyata. Tapi, keduniawian yang tak benar membuatnya menjadi semu, hanya bayang-bayang belaka, kehidupan hakiki itu dimaknai dengan segala yang kita lakukan ditujukan kepada yang berhak, yaitu Tuhan Semesta Alam” paparku
“Apa hubungannya dengan sebutir nasi Mbak?”
“Allah punya rencana dalam membuat sebutir nasi. Dengan sebutir nasi Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Karena kita tak mampu walau hanya mencipta sebutir nasi saja. Tinggal bagaimana kita menyakini, memahami dan melaksanakan ketentuan yang telah diamanahkan kepada kita sebagai pemimpin. Nah seluruh aspek hidup kita harus benar Neng, baik cinta, harapan dan takut dalam mendekatkan diri pada Allah,”
“Oh begitu, Neneng baru ngerti. Ya udah Neneng sekarang mah shalatnya ga mau bolong-bolong lagi deh”
“Iya, sip Neng. Semuanya menuju proses pencapaian hakiki, dimulai dengan dasar, tiang, dan atap yang benar. Salah satunya dengan menegakkan sahalat, menuju proses Religiositas yang benar dalam Islam,”
Neneng tersenyum, mulutnya mengerucut tanda tak mengerti.
Ah Neneng, semuanya harus bertahap.
Tiba-tiba sosok berkaca mata minus lengkap dengan wajah datarnya hadir di Taman Kota, menghampiriku yang sedang bersama Neneng. Dia seolah tak menyadari akan keberadaanku, badannya yang tegap berlalu tanpa pernah memberikan sebuah senyuman.
Furqon, Allah menakdirkanmu untuk menyadarkanku khan makna dari sebutir nasi yang selama ini aku abaikan.
Tanpa paksaan, ku tersenyum melihat punggung badannya meninggalkan sebuah hamparan putaran roda yang tak pernah berhenti berputar.
***
Sahabat, dakwah adalah kemuliaan bagi seorang mukmin. Tidak berdakwah adalah suatu pertanda, maka sampaikan pada saudara-saudara kita walau satu ayat.
Ada yang mengeluh merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh, ia berkata LELAH. Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat, dalam sanubarinya tertanam kuat LILLAH.
Wallahu alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar