Berasa baru kemarin brojol dari perutnya si emak dan diadzanin ama apa..
Tapi ternyata eh, eh,, udah 23 tahun.
Malu atuh kalo hidupnya gitu-gitu aza mah, ada beberapa poin penting dalam hidup saya, masih banyak mimpi yang ingin saya capai, jika sebelumnya baru meraih mimipi kecil, maka sekarang waktunya mewujudkan mimpi besar.
buat tahun 2012 menuju tahun 2013 artinya menuju 24 tahun beberapa impian saya, bismillah :
1. Ramadhan secara maksimal,
2. kuliah s2 jurusan Kimia ITB atau Sains Komputasi ITB
3. Punya calon buat menggenapkan separuh dien
4 Anak solehah pastinya
Kamis, 21 Juni 2012
Selasa, 12 Juni 2012
**Bangun lagi**
Pernahkah kamu jatuh? Jatuhnya direncanakan atau tanpa kita sadari? Bagaimana rasanya? Sakit Bukan? Begitulah perasaanku, ketika hari yang ditunggu itu tiba. Yap, hari dimana interview akhir di sebuah salah satu Bank di Garut. Sempat, diri tak menerima, menghujat nyata yang ada. Menganggap bahwa ini hanya kebohongan. Namun, masih dalam keadaan diri yang terhina, kuberanikan diri memasukkan lamaran kembali pada Bank yg sama. Selang sebulan dari lamaran kedua, terpanggil untuk wawancara awal langsung dengan Pimpinan Cabang yang akan Pensiun satu Tahun Lagi. Wawancara berlangsung sangat santai, dan tak ada keganjalan, tinggi badan pun memenuhi, lalu apa hasilnya? FAILED! ya saya Gagal untuk yang kedua kali.
Di tengah harap yang menggebu, di tengah keinginan yang memuncak, saya langsung merasa tak punya keberanian lagi untuk mencoba. Ironis memang, seorang lulusan sarjana Strata 1 dari salah satu PTN memiliki mental yang seperti ini. Yap, saya merasa ngeri terhadap diri sendiri.
Kegagalan, kegagalan, dan kegagalan lagi yang kulalui. Itulah isi memori kepalaku hingga beberapa hari ke depan. Masih, aku merasa tak percaya. Bingung dengan yang ada, apa yang orang lain punya hingga mereka lebih pantas dibandingkan saya.
Hingga suatu hari, muncullah perdebatan antara aku, mamah dan bapak. Segala kekesalan, gemuruh kesal keluar dari mulut saya. Gemuruh kesal karena selalu harus mengikuti apa yang mereka inginkan, apa yang mereka mau, dan apa yang mereka pikirkan. Merasa terpenjara dalam jati diri. Mungkin itulah yang kurasakan, hingga pada akhirnya membuat saya pribadi malas untuk menjadi pribadi yang lebih baik, membuat saya ogah untuk bergairah mengisi hari yang dilalui. Namun, ketika saya berusaha keluar dari keinginan mereka, aku tak punya kemampuan untuk menggapainya, karena keterbatasan keahlianku, keterbatasan pemikiranku, keterbatasan sikapku, keterbatasan fisikku.
Perdebatan yang berbuah sakit, sakit memang, tapi menjadi penawar penyakit hati yang mulai aku sadari. Pintu Gerbang untuk membangunkan aku yang mulai tidur kembali dalam buaian predikat kelulusan yang diberikan manusia. Akhirnya, dari perdebatan itulah berbuah nasehat panjang nan manis yang teruntai keluar dari mulut ayah dan bundaku, awalnya aku tak hirau tuk mendengarkan. Namun, haru mulai menyergap jiwaku ketika dalam diamku ku berusaha untuk memasrahkan apapun yang terjdi padan-Nya. Kicauan ayah bundaku semakin lama semakin sejuk, membassahi hatiku yang gersang. Semakin ku maknai, ya aku harus ikhlas dan bersyukur atas apa yang dititipi oleh-Nya sekarang.
Tertatih ku coba, ku berusaha, ku pasrahkan pada-Nya.
Wahai Allah, terimakasih telah menegurku. Mohon maafkan segala kesalahanku yang telah menyakiti hati ayah bundaku. Semoga ayah bunda bisa bersatu dan berjodoh di Syurga-Mu. Amin
Langganan:
Komentar (Atom)